Minggu, 09 Juni 2024

Imam Al-Bukhārī dan Kontak Lintas Aliran dalam Periwayatan Hadis

  • Juni 09, 2024
  • Penerbit NEM




Selain Sunni, dalam Islam dikenal berbagai aliran teologis, seperti Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariyah, dan Jahmiyah, yang umumnya disebut sebagai “pelaku bidah” atau mubadda‘ūn oleh kalangan Sunni. Hubungan antara kalangan Sunni dan kalangan mubadda‘ūn dalam konteks perdebatan teologi, terutama pada masa periwayatan dan kodifikasi hadis, yakni antara sekitar abad 1 H/7 M hingga abad 4 H/10 M, secara umum tidak dapat dikatakan toleran, apalagi harmonis. Pernyataan-pernyataan lugas namun pedas dari kalangan Sunni, termasuk Muḥammad b. Ismā‘īl al-Bukārī, yang ditujukan untuk menyerang kalangan mubadda‘ūn bertebaran dalam karya-karya mereka. Namun demikian, dalam kitab hadis yang dianggap paling otentik dan valid setelah Al-Qur’an, yaitu Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, terdapat sejumlah perawi mubadda‘ūn yang meriwayatkan hadis sahih. Oleh karena itu, muncul dua pertanyaan mendasar: mengapa dalam Ṣaḥi>ḥ al-Bukhārī terdapat perawi mubadda‘ūn? bagaimana kontak lintas aliran teologis dalam periwayatan hadis?

 

Data demi data serta analisis demi analisis sebagai jawaban dari dua pertanyaan tersebut akan merekonstruksi konsep jarḥ wata‘dīl dalam ilmu hadis dirāyah (teoretis) yang secara umum tampak masih memperhitungkan perbedaan aliran teologis sebagai penghalang periwayatan hadis dan pengakuan kredibilitas perawi hadis. Umat Islam, apa pun dan bagaimanapun aliran mereka, ternyata melakukan kerja sama yang baik demi kepentingan periwayatan dan konservasi hadis.


                                                                   PEMBELIAN BUKU: